Disebut Lebih Murah Dari Vaksin, Dexamethasone Bisa Jadi Obat Covid

Terakhir WHO menarik ucapannya dan kembali melanjutkan riset terkait obat ini. Beberapa negara di dunia dikethui masih menggunakan obat ini untuk mengobati pasien virus Corona termasuk Indonesia. Sementara, obat dexamethasone, seperti disebut WHO, tidak boleh dikonsumsi untuk mencegah atau mengobati gejala ringan COVID-19. Mengonsumsi obat radang tenggorokan alami, terbukti lebih aman dikonsumsi karena tidak terkontaminasi dengan zat dan proses kimia.

Jenis obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi peradangan, gangguan pencernaan, asma, dan reaksi alergi. Terkadang, dexamethasone juga digunakan dalam pengobatan beberapa jenis kanker. Namun, baru-baru ini tim peneliti dari Inggris mengumumkan dexamethasone dapat menjadi suatu terobosan dalam mengobati Covid-19. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebuah kabar di media sosial beredar viral menyatakan obat COVID-19 dexamethasone lebih murah dibandingkan dengan vaksin COVID-19. Sebanyak 2.104 pasien diacak untuk deksametason sekali sehari selama sepuluh hari dan dibandingkan dengan four.321 pasien secara acak untuk perawatan biasa saja.

Namun, prakteknya tidak semua pihak memiliki akses terhadap obat yang dibutuhkan. Pelaksanaan paten oleh pemerintah ini merupakan upaya untuk menjamin ketersedian obat Favipiravir sebagai obat Covid-19 dengan harga yang terjangkau. Freddy mengatakan bahwa menurut dokter ahli paru baru 30 persen penerima obat Favipiravir untuk orang yang terkena covid-19 dengan kasus ringan dan sedang baru. Sebuah studi kecil dari para ilmuwan di Universitas Southampton menunjukkan bahwa inhaler yang mengandung obat interferon beta, yang digunakan untuk mengobati a quantity of sclerosis, bisa efektif menyembuhkan pasien COVID-19. Obat yang mahal itu dibuat oleh perusahaan AS, Gilead Sciences, dengan tujuan awal untuk menyembuhkan hepatitis C. Sayangnya obat itu justru tidak efektif untuk penyakit itu dan dialihkan penggunaannya untuk pasien Ebola.

Peneliti mengungkapkan temuan bahwa obat dexamethasone yang beredar di pasaran bisa selamatkan pasien Virus Corona. (Tribun Kaltim.co)Hasil penelitian menunjukkan obat tersebut harus segera menjadi perawatan standar pada pasien dengan kasus penyakit parah, kata para peneliti yang memimpin uji coba. Hasil awal dari uji klinis yang baru saja dirilis menunjukkan bahwa obat ini dapat mengurangi peluang seseorang yang dirawat di rumah sakit dan membutuhkan alat bantuan pernapasan, meninggal akibat Covid-19. Peringatan Ari senada dengan yang sebelumnya disampaikan kepala ilmuwan di organisasi kesehatan dunia , Soumya Swaminathan.

Banyaknya pendaftaran obat ini diakui Penny membuat BPOM melakukan kerja keras seleksi registrasi dua kali lebih banyak dibandingkan sebelum masa pandemi. JAKARTA, AYOBANDUNG.COM — Badan Pengawas Obat dan Makanan memastikan hingga saat ini belum ada obat yang efektif untuk infeksi Covid-19. Namun, obat tradisional atau natural diharapkan bisa menjadi alternatif, asalkan tetap memperhatikan aspek keamanan. Ini berarti pasien memerlukan resep dokter untuk mendapatkannya dan dokter harus mengambil persetujuan pasien sebelum memberi mereka obat. Remdesivir awalnya dikembangkan oleh Gilead Sciences, sebuah perusahaan farmasi yang berbasis di AS, selama wabah Ebola untuk melawan penyakit mematikan itu.

Obat covid yang murah

PMJ – Usai dipublikasikan, harga obat Covid-19 yang dikeluarkan Kalbe Farma menuai beragam komentar. Pihak Ikatan Dokter Indonesia beranggapan harga obat yang dipatok sebesar Rp3 juta per dosis itu tergolong mahal. Presiden Direktur Kalbe Farma, Vidjongtius menanggapi kritikan tersebut. “Kami telah menunjukkan pada hewan bahwa kami dapat mengurangi virus di hidung jadi saya pikir kami memiliki semua sains dan knowledge untuk mendukung hal ini pada manusia,” kata Regev. Untuk diketahui, Desrem™ Remdesivir besutan Indofarma hanya bisa dikonsumsi untuk pasien COVID-19 yang dirawat inap dengan usia 12 tahun ke atas dan memiliki berat badan minimal 40 kilogram . Obat ini berbentuk serbuk injeksi liofilisasi yang dikemas dalam dus per vial 100 mg.

Dan saat ini temuan itu sedang menjalani uji klinis Tahap II di seluruh Kanada yang disetujui oleh Health Canada, dan di negara lain. Obat tersebut akan dijual ke rumah sakit dengan harga Rp 1,3 juta per vial. Dibandingkan dengan produk sejenis yang dikeluarkan perusahaan farmasi lainnya, obat dari Indofarma ini lebih murah. Favipiravir juga menargetkan manfaat RNA untuk menghentikan penyebaran virus. Sebuah penelitian uji coba favipiravir pada 80 pasien di bulan Maret, hasilnya membantu membasmi virus dari pasien seminggu lebih awal dibandingkan dengan koktail obat HIV dari AbbVie Inc, serta menurunkan keparahan gejala di dada. Sejauh ini banyak penelitian tentang pengobatan COVID-19 berfokus pada pasien yang sudah memiliki gejala parah.