Jaga Kesehatan Psychological Dengan Mengenali Gaslighting Dalam Poisonous Relationship

Para pelaku akan membuat korban meragukan diri sendiri, penilaian, ingatan, dan kewarasan diri. Gaslighting adalahbentuk manipulasi secara psikologis oleh seseorang, sehingga diri kita atau korban menjadi penuh keraguan serta merasa rendah diri. Selain itu, saat pasangan menyalahkan kamu dan kamu berusaha untuk membahas bahwa tindakannya tersebut menyakiti kamu, pada akhirnya mereka akan memutarbalikkan percakapan tersebut sehingga tetap kamu yang bersalah. Dengan kata lain, dia memanipulasi kamu sehingga kamu meyakini bahwa kamulah penyebab kelakukan buruknya. Dia bisa saja mengklaim jika kamu berperilaku berbeda, dia tidak akan memperlakukan kamu dengan cara seperti itu. @katemangostar through Slot Game Online FreepikTanda gaslighting dalam hubungan lainnya adalah keengganan untuk meminta maaf misal saat kamu merasa tersakiti.

Apa itu gashlighthing

Berbohong dengan berbagai alasan merupakan tanda pasti adanya gaslighting. Tak hanya itu, korban gaslighting juga tidak akan mempertanyakan motif serta tindakan orang yang menyerangnya secara verbal. Padahal korban merasa sakit dan mengalami penderitaan yang luar biasa. Dilansir dari Family Psychiatry and Therapy, gaslighting merupakan taktik di mana seseorang memanipulasi orang lain dengan harapan mendapatkan ‘kekuatan’ dari mereka. Seringkali manipulasi ini menyebabkan korbannya mempertanyakan realitas diri mereka sendiri.

“Banyak orang mengubah persepsi mereka untuk menghindari konflik,” jelas Lancer. Gaslighter biasanya memiliki dua sikap berbeda di depan seseorang yang berbeda. Contohnya, dia bisa bersikap sopan di depan kita, dan kasar di depan orang lain. Jika sudah mengetahuinya, kamu harus menjaga jarak dan jangan terlibat dengannya, kecuali jika benar-benar membutuhkan.

Hubungan ini bersifat tidak seimbang, dimana salah satu pihak menempatkan pihak yang lain di atas segalanya. Pakar Psikologi Unair, Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si., menjelaskan bahwa perilaku gaslighting ini dapat mempengaruhi “korban” sehingga meragukan penilaian dan persepsinya sendiri. Isolasi psikologis dan ketergantungan emosional dapat menjadi tujuan dari pelaku gaslighting. Beberapa pelaku gaslighting tidak menyadari jika dirinya sedang melakukan gaslighting, dan sebagian besar tidak tahu bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang lain. Ketika seseorang mencoba untuk mengontrolmu, mereka akan mempengaruhi pikiran dan emosimu sedemikian rupa sehingga dirimu akhirnya akan mempertanyakan setiap hal yang kamu yakini. Kamu akan berhenti menganggap dirimu serius dan malah akan menerima nasihat dari orang lain itu.

Ya, rupanya banyak orang yang pernah melakukan atau bahkan menjadi korbangaslighting dalam hubungannya. Dilansir dari Healthline, gaslighting merupakan tindakan memanipulasi seseorang dengan memaksa mereka untuk mempertanyakan pikiran, ingatan, dan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Pelaku gaslighting cenderung tidak mau mengakui kesalahannya dan selalu menyangkal. Hal ini akan membuat korban merasa kebingungan dan frustrasi, hingga akhirnya gangguan mental lah yang akan muncul.

Meski gaslighting tidak pernah dibenarkan, ada beberapa orang yang mungkin tak menyadari bahwa mereka melakukannya. Yuk, mengenal lebih dekat tentang apa itu gaslighting dalam pernikahan, yang wajib dipahami semua istri. Nah, kalau kamu merasakan sebagian besar dari tanda-tanda gaslighting dalam pernikahan di atas, maka kamu patut wasapada! Cobalah untuk mencari bantuan dari orang-orang terdekatmu, ya, dan tetap berpikiran jernih. Bagian dari masalah dengan gaslighting adalah bahwa hal itu mengakibatkan korban mempertanyakan pikiran, nilai, persepsi, atau perasaannya sendiri.

Saat kamu merasa tersakiti dan pasangan tidak menunjukkan empati dan meminta maaf, kamu patut curiga. Sebagai gantinya, dia mungkin akan meyakinkan kamu untuk tidak memikirkan atau merasakan hal tersebut. Hal ini tentu akan membuat kamu merasa bingung dan frustasi karena pasangan tidak membenarkan perasaan kamu. Siklus terus berlanjut melalui cara untuk menjaga kendali, yang dipertahankan oleh pelaku melalui kebohongan terus menerus sambil memanipulasi. Pada dasarnya pelaku akan menghambat kemampuan mereka untuk meninggalkan hubungan.