Masih Banyak Yang Percaya Covid

Salah satunya ialah berita yang dirilis Nypost.com dengan narasumber utama konsultan politik kenamaan Amerika Serikat Roger Stone. “Sangat tidak benar, hampir 70% pasien di Indonesia ditanggung BPJS, tenaga medis mengusahakan pengobatan terjangkau dengan hasil terbaik bagi pasien,” terang Hardadi menampik pernyataan Covid-19 hanya ladang keuntungan tenaga medis. Melalui Yayasan Bill dan Melinda Gates, mereka dikaitkan dengan konspirasi atas paten tersebut serta menghubungkan Bill Gates dengan perusahaan farmasi yang mungkin mengembangkan vaksin untuk virus. Selain itu juga soal pengendalian populasi hingga pengurangan emisi CO2 menjadi nol. Namun, jawaban ini justru ditangkap sebagai sesuatu yang menarik oleh beberapa media.

Tapi, yang bisa diubah adalah cara berpikir diri sendiri dan memilah informasi yang tepat,” kata dia. Jadi ketika masyarakat menciptakan atau memercayai sebuah teori konspirasi, mereka merasa mendapatkan jawaban akan segala kekhawatirannya. Tak peduli jawaban itu benar atau tidak, yang jelas mereka akan merasa lebih aman dan memegang kendali akan kehidupannya.

Berbagai hoaks dan juga konspirasi masih banyak beredar luas di internet dan tidak jarang orang yang memercayainya. Sehingga penyebaran hoaks ini menjadi salah satu pemicu dari ketidakpercayaan masyarakat. Dari Den Haag hingga Stuttgart dan Paris, sebagian orang mengklaim bahwa mereka tengah berjuang melawan kendali pikiran atas pandemi COVID-19. Mereka menyebarkan pandangan alternatif mengenai versi virus corona. Seperti yang Douglas katakan, orang-orang tertarik pada teori konspirasi karena ada ketidakpastian. Dengan menghubungkan titik-titik, teori konspirasi mengambil yang tidak diketahui dari persamaan dan memberi orang rasa kontrol.

Empat, pertanyaan yang menggelitik muncul, apabila Bill Gates sudah mulai membuat vaksin saat ini apakah dia telah memiliki virus corona sebelum pandemi terjadi? Maka tidak heran bila beberapa peneliti dunia mengatakan bahwa pandemi corona saat ini tidak pure. Sialnya, di tengah dunia yang sebagian penduduknya percaya bahwa Bumi datar, ada saja yang percaya teori konspirasi soal Gates dan COVID-19. Dalam jajak pendapat yang dilakukan Yahoo News dan YouGov, misalnya, 44 persen responden dari kalangan Republik percaya tentang teori konspirasi Gates-COVID-19 itu. Fenomena ketidakpercayaan masyarakat terhadap penyebaran virus Covid-19 ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tidak sedikit negara di luar sana yang masyarakatnya lebih memercayai teori konspirasi yang beredar. Dari sekian banyak informasi ilmiah yang ada, sebagian orang memilih untuk berinteraksi dengan informasi berbasis konspirasi.

Mengapa banyak konspirasi mengenai covid

Ini dikarenakan mereka mengalami bias konfirmasi atau ‘bias diri sendiri’, di mana orang mencari informasi yang menegaskan keyakinan mereka dan mengabaikan bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Bukti menunjukkan, individu yang percaya pada teori konspirasi tertentu mengenai fenomena seperti pandemi juga cenderung percaya pada teori konspirasi lain dalam konteks yang tidak terkait. Ia memberi usulan menarik terkait penggunaan sertifikat vaksin Covid-19 di Indonesia. [newline]Ayah tiga anak itu mengusulkan agar sertifikat vaksin Covid-19 menjadi salah satu syarat wajib jika seseorang akan login ke media sosial mereka. Akan tetapi karena masalah terlalu kompleks, maka informasi apapun yang terlihat masuk akal baginya akan dijadikan acuan. Dan hal-hal yang masuk akal ini, tidak terhindarkan dari sikap biasnya terhadap golongannya. Ketika seseorang terlalu cinta terhadap kelompoknya maka akan timbul sikap etnosentris dan akan selalu berusaha membuat kelompoknya terlihat paling benar.

Survei tersebut memang tidak merepresentasikan kondisi di Indonesia, namun hal ini bisa menjadi gambaran bahwa cukup banyak orang yang percaya terhadap teori konspirasi COVID-19. Bahkan di negara maju yang mayoritas orangnya berpendidikan sekalipun. Perasaan tidak berdaya, tidak penting dalam masyarakat dan ketidakmampuan untuk membawa perubahan karena itu terkait dengan tingkat kepercayaan teori konspirasi yang lebih tinggi. Teori konspirasi virus corona tentang 5G Otak kita secara alami mencoba membuat koneksi tentang semua hal yang terjadi dalam hidup kita dan dunia. Beberapa menuduhnya sebagai pemimpin kelas elit global, sementara yang lain percaya bahwa dia memimpin upaya untuk mengurangi populasi dunia.

(Pexels/@Anna Nandhu Kumar)Pakar perilaku lainnya menduga bahwa orang yang terisolasi secara sosial lebih mungkin untuk percaya pada teori konspirasi. Berikut beberapa teori konspirasi virus corona yang hadir selama setahun pandemi Covid-19 di Indonesia. Dan jika dari motif psikologi yang telah dibahas di atas, mungkin saja bukan hanya masyarakat luas yang percaya teori konspirasi akan tetapi para elit international Mesin Slot pun memiliki kemungkinan untuk percaya juga. Bisa jadi elit-elit pun membutuhkan pihak yang disalahkan sehingga dia bisa bertahan di kursi kekuasaan. Motif yang kedua yaitu eksitensial, adalah sebuah motif yang mendorong manusia untuk melakukan proteksi terhadap diri.